Postingan

Bukan Tentang Kamu, Kamu, ataupun Kamu.

Bukan. Ini cerita bukan tentang kamu. Bukan tentang kamu yang selalu bisa membuat aku tertawa. Bukan tentang kamu dan pelukan hangatmu di hatiku yang luka. Bukan. Cerita ini juga bukan tentang kamu. Bukan tentang hatiku yang jatuh sesaat di depanmu. Bukan tentang kamu yang melangkahi hatiku begitu saja. Bukan. Aku sudah bilang kan cerita ini juga bukan tentang kamu. Bukan tentang kamu, aku, atau kedekatan semu itu. Bukan tentang kamu yang bahkan tanggal ulang tahun nya pun aku ragu. Lalu ini cerita apa, tanyamu?  Tentang apa lantas, tanyamu? Stop. Aku sudah tau kamu mau bertanya apa. Ini tentang aku. Ini cerita tentang aku yang tangisnya sering kau hentikan. Tentang aku yang pergi karna hatiku jatuh tiba2. Tentang aku yang meninggalkanmu karna sebuah kedekatan semu. Ini tentang aku. Cerita ini tentang aku dan tembok tebal yang memisahkan kita. Tentang aku dan malam malam canggung itu. Tentang aku yang pernah dekat denganmu. Ini tentang aku. Cerita ini juga tenta...

Winter

Have you ever, even for just one second, thought about it? All the laughs we shared back and forth. All that smile. Is it for nothing? So you're telling me that you'll let it drown in the sea of old memories,       not to be remembered nor spoken again.           Not even once. You hear me loud and clear.      I  tried my best to suppress .. almost everything I'm not gonna blow up anything soon. I swear I'm good at that.     It's not like you to worry about me. Stop wishing for something impossible.       Turning back time is never a wise thing to do anyway. But one thing that I need you to know That kind of coldness never suits you.

Dua Sisi

“Aku bukan halte. Tolong jangan dengan lancang singgah lalu pergi lagi,” kataku sambil beranjak pergi Aku muntab, terang saja. Enak saja dia menyangka dia bisa datang lalu pergi semaunya sendiri. Tidak terasa kah dia meninggalkan bekas luka cakar yang dalam di hati ini? Apa dia tak sadar dia sudah membuatku begitu hancur, begitu penuh air mata. Begitu penuh dengan perasaan dendam. Seolah aku akan mampu membunuhnya begitu saja saat aku tak sadar. Dia itu brengsek. Dia membuat aku jatuh cinta pada dia lalu dia jatuhkan aku sekalian ke jurang kepedihan yang dalam. Dia membuat aku membuka hatiku lebar – lebar dan sekaligus membuatku menyesalinya. Dia membuatku tertawa paling nyaring, tapi lalu membuatku menangis paling keras. Dia membuat hari dan hatiku tenang, setenang embun pagi, lalu ia bagai halimun datang dan memporakporandakan semuanya. Dasar pembohong! Buaya!  Pergi datang seenaknya. Mana mungkin dia pergi kalau dia memang cinta? Aku sudah tidak percaya lagi kata ci...