Dua Sisi
“Aku bukan halte.
Tolong jangan dengan lancang singgah lalu pergi lagi,” kataku sambil beranjak
pergi
Aku muntab, terang
saja. Enak saja dia menyangka dia bisa datang lalu pergi semaunya sendiri.
Tidak terasa kah dia meninggalkan bekas luka cakar yang dalam di hati ini? Apa
dia tak sadar dia sudah membuatku begitu hancur, begitu penuh air mata. Begitu
penuh dengan perasaan dendam. Seolah aku akan mampu membunuhnya begitu saja
saat aku tak sadar.
Dia itu brengsek. Dia
membuat aku jatuh cinta pada dia lalu dia jatuhkan aku sekalian ke jurang
kepedihan yang dalam. Dia membuat aku membuka hatiku lebar – lebar dan
sekaligus membuatku menyesalinya. Dia membuatku tertawa paling nyaring, tapi
lalu membuatku menangis paling keras. Dia membuat hari dan hatiku tenang,
setenang embun pagi, lalu ia bagai halimun datang dan memporakporandakan
semuanya.
Dasar pembohong!
Buaya! Pergi datang seenaknya. Mana
mungkin dia pergi kalau dia memang cinta? Aku sudah tidak percaya lagi kata
cinta yang selalu muncul dari bibirnya. Aku bahkan tidak tahu kepada siapa saja
dia mengucapkannya. Aku muak. MUAK MUAK MUAK!!!
“Aku bukan bis,kamu
salah sangka,” katanya mengejar langkahku
Kamu yang selalu
berusaha membela diri, selalu berusaha berdusta. Aku harusnya tahu kamu tidak
akan tinggal diam serta merta menerima semua tuduhan ku atas perselingkuhanmu.
Aku harusnya tahu kalau kamu hanya akan mengeluarkan segudang bujuk rayu yang
merupakan keahlianmu itu. Sayang sekali semua bujuk rayu itu tidak mempan
padaku, kamu tahu? Hati ini rasanya sudah begitu bengal, menebal terlalu sering
kamu cacah dengan perih. Tak sadarkah kamu? Semua bujuk rayu mu mengkontradiksi
perilakumu.
“Kamu seperti bis,
pulang dan pergi semaunya, menelusuri halte demi halte tak henti henti ,”
kataku ketus sambil melangkah pergi
Lagi – lagi kami
bertengkar. Padahal baru setengah jam lalu kami tertawa bersama di kedai makan,
menertawakan kucing betina kuning yang berebut tulang ayam dengan kucing
betina belang hitam di bawah meja kami. Baru dua jam lalu kami keluar dari
bioskop sambil bergandeng tangan mesra, membicarakan aksi pemeran utama yang
begitu berani mengorbankan dirinya sendiri demi partnernya. Lagi – lagi kami
bertengkar, bersahut-sahutan saling teriak. Lagi – lagi kami bertengkar,
seperti pasangan yang lama dirundung bosan setiap usai kencan.
Tapi entah mengapa dia
selalu bisa membuatku berubah pikiran. Sifat – sifatnya yang begitu plin-plan
entah mengapa selalu menggoyahkan berbagai keputusanku. Dia dengan semua
perhatian manisnya kepadaku, yang ternyata tidak hanya untukku. Dia dengan
semua rayu nya saat di sisiku, dan ketidakberadaannya ketika dia sedang merayu
wanita lain. Dia dengan semua sakit hati, dan semua hadiahnya yang dia berikan
secara runtut kepadaku. Dia yang membuat tangis di mataku. Dia yang membuat tawa
di wajahku. Aku tak bisa menyangkal perasaanku sendiri yang diam – diam
membelot
Aku masih cinta dia.
Nah
sekarang coba baca masing – masing paragraf dari bawah ke atas ^^
nb : maaf abal ._.v baru pertama kali bikin ginian
Komentar
Posting Komentar