Postingan

Menampilkan postingan dengan label puisi

Nyeri

Napasku terengah Menahan dekapmu yang makin erat     Nyeri Berdenyut pelan seiring euforia yang kau berikan Pagi datang Kau dan kotak rokok kosong yang kau remas     dan belasan puntung bekas di kaki kursi plastik       tempatmu duduk Memejamkan mata Mengehembus asap     menari di sinar mentari yang lolos dari lubang ventilasi kecil     di ruang dingin ini Sepertinya menyenangkan sekali      bisa menjadi batang tembakau yang sangat kau cintai     yang bisa mencumbu mu tiap hari     tanpa takut     tanpa ngeri Kau tidak tidur?      tanyaku pelan Tidak.  Kau terlalu sibuk terlelap.  Sementara aku terjaga dengan sejuta tanya.      Siapa yang kau sembunyikan di balik senyum mu?     Kurangkah aku untukmu?     Mari pulang. Aku lelah bertengkar. ... Napasku terengah Tanganmu enggan mendekap ... Nyeri

Baik Baik, Saja?

Dibanding sakit, mungkin lebih pas kusebut ini kecewa. Dibanding rasa marah, rasa merenggut yang sesak ini lebih pas kuberi nama nyeri. Sebuah kepercayaan. Sebuah janji. Sebuah ucapan, "percayalah, tak akan lagi". Sebuah dusta. Menyeduh lara. Sebuah konsekuensi, "siapkah kau untuk berusaha lagi?" Dibanding ingin pergi, aku cuma ingin memelukmu dan berkata, semua akan baik-baik saja. Kita akan baik-baik saja.

Tanpa Sengaja

Aku jatuh hati padamu tanpa sengaja Pada foto yang kau pajang di media sosial tempat kita berjumpa,     aku tidak sengaja memilih suka. Pada deskripsi singkat yang kau tuliskan,     aku tidak sengaja memberi perhatian. Pada jaket hitammu yang bermerk itu,     aku tidak sengaja memberi harap,          pada hatiku yang luka. Aku bertemu denganmu, dengan sengaja yang kita sengajakan. Walau harus bersembunyi dari dunia,     k ita duduk berdua. Kopi susu. Coklat dingin. Croissant yang tidak tersentuh. Aku,     dan kamu. Kamu menggenggam tanganku, dengan sengaja. Membujuk rayu, dengan sengaja. Melihatku luluh dalam matamu,     sengaja. Tapi tetiba kau menghilang. Tanpa bekas,     tak berbalas. Kubaca berulang kali pesan terakhir darimu. Berusaha mencari celah dari apa yang salah. Kau bukan milikku , tulismu. Maafkan aku.     Aku tidak sengaja jatuh hati.          T...

Hatiku Patah

Aku tidak jatuh cinta pada lekuk bibirmu. Aku jatuh hati pada ucapmu, lembut sewarna lazuli. Tidak pula aku terjerembab pada tajamnya pandangmu. Tapi aku lacur, tersandung pada curamnya anganmu. Dan aku tak lagi terpikat oleh mawar, melati, maupun akar wangi. Inginku lah mentari, debu, dan nuansa mu. Alur waktu begitu kejam. Bentangkan ruang pada hatiku yang penuh sesak akanmu. Melodi tercerai berai sepanjang ruang. Kosong. Tak mampu menggapai hatimu. Di saat langkah tak lagi seiring. Mungkinkah angan setia seingin?