Tolong Tanyakan, Sejenak Saja
Pernahkah
kamu bertanya, sekali saja, kepada dirimu sendiri? Kalau belum, tanyakanlah.
Tanyakan di saat pagi masih biru hijau dan kopi hitammu masih mengepul panas,
penuh hasrat dan impianmu hari itu. Tanyakanlah, dengan perlahan dan penuh
penghayatan.
Siapkah kau dengan perpisahan?
Jarak
yang akan terbentang bukan lagi jalanan berpuluh kilometer yang bisa kau tempuh
dengan motor sport kesayanganmu itu, kasihku. Jarak yang ada nanti bukan cuma
jajaran angka yang menghitung jumlah ombak yang harus kita lalui. Jarak itu
antara kamu dan impianmu, kamu dan aku, lalu aku dan tuntutan yang dibebankan
akanku.
Sekali
lagi, tanyakan pada hatimu itu.
Siapkah kau bertempur dengan waktu?
Waktu
bukanlah lagi detik yang kuhitung saat menunggumu muncul di pintu rumahku
dengan membawa debu jalanan, dan wangi khasmu. Waktu yang ada nanti tidak akan
menunggu kau datang dan membawaku pergi. Waktu itu akan mengejarmu, menyeret
kita menjauh, dan menjadikan kenangan tentangmu tersisa hitam putih kelabu di
anganku.
Berapa
lama kita akan terpisah, tanyamu.
Dua
hari?
Satu
minggu?
Empat
bulan?
Tiga
tahun?
Ratusan purnama? Memang apa bedanya?
Kau
bukan Rangga dan aku bukan Cinta, kisah kita hidup di elegi yang sama sekali
berbeda. Dongeng yang tak menafaskan puisi, hanya tangis lirih para penyairnya,
yang tak lagi mampu berkata.
Kau akan kembali, dan aku akan menunggu, rintihmu.
Tolong
jangan katakana kau berharap aku percaya dengan omong kosong semacam itu.
Katakanlah aku memang akan kembali, dan kau masih pula sendiri. Pernahkah kau
bertanya pada hatimu?
Saat detik bagai seminggu, masihkah hatimu sendu ketika bertahun dibelenggu rindu?
Yakinkah
kau bahwa aku yang kau lihat adalah aku dulu yang kau cintai? Saat aku sendiri
tak mampu meyakini bahwa kau yang ku lihat adalah kau dulu yang kucintai. Kau yang
memperjuangkan aku hingga air mata kita berdua kering, lunas terbasuh peluh.
Yakinkah kau bahwa cinta yang ada di hati kita masih cinta yang dulu kita cintai?
Jarak
sudah lama menggali jurang di antara kita. Waktu pun datang menarik kakiku
seperti ombak pantai saat senja. Walau aromamu masih hangat mengepul di antara
aroma kopi pagiku, dan hangatku masih tersirat di cangkir teh tawarmu. Masihkah
kita adalah kita?
Aku
bukan Cinta dan kamu bukan Rangga, sayangku. Ratusan purnama hanya akan
mendinginkan malam-malam kita. Ratusan purnama hanya akan mensunyikan pagi-pagi
kita.
Karenanya,
tolong tanyakan pada hatimu, tentang pertanyaan yang sama yang kutanyakan pada
hatiku. Di antara kopi hitam mengepul, pahit manis, dengan kenanganmu teraduk
di dalamnya.
Siapkah kau dengan perpisahan?
-o0o-
Terinspirasi
oleh hujan deras yang benar-benar bikin mellow, dan Jung Sungha (damn)
Komentar
Posting Komentar